Google Translate

Jumat, 24 Juni 2016

WIsata Kuliner Sengkaling

Kali ini saya akan membuat blog tentang taman wisata sengkaling dan sengkaling kuliner yang berada di  Jl. Raya Mulyoagung No. 188, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, atau berjarak sekitar 10 km dari pusat Kota Malang,
T.R SENGKALING
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr HM Dien Syamsuddin, MA dijadwalkan meresmikan Taman Sengkaling UMM (UMM Sengkaling Park), Sabtu (28/2) malam ini. Peresmian dilangsungkan di taman romantis yang terletak di halaman dalam Taman Sengkaling. Selain Din, UMM juga mengundang antara lain Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf, Bupati Malang Rendra Kresna, pimpinan Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Malang Raya serta pejabat struktural UMM dan jajaran manajer Taman Sengkaling.
Pembantu Rektor II UMM, Fauzan, MPd, menerangkan sejak diakuisisi oleh UMM tahun 2013 lalu, tempat wisata ini bernama Taman Rekreasi Sengkaling (TRS). Pengesahan oleh Kementerian Hukum dan HAM diperoleh UMM Desember tahun lalu melalui surat keputusan nomor AHU-0131535.40.80.2014. Setelah secara resmi 100% menjadi milik UMM, kini dilakukan rebrandingdengan nama Taman Sengkaling UMM. Nama ini mengingatkan pada unit bisnis lain yang dimiliki seperti UMM Inn, UMM Dome, UMM Hospital, UMM Bookstore dan UMM Farm.
“Ini tidak sekedar re-branding, karena kita tetap membangun citra Sengkaling sebagai destinasi wisata legendaris serta tetap mempertahankan manajemen yang sudah ada,” ungkapnya.
Meski demikian, tambah Fauzan, sentuhan baru dan modern tetap dilakukan agar terjadi penyegaran suasana. Beberapa sentuhan baru itu antara lain menambah satu area untuk wisata kuliner Sengkaling Food Festival (SFF), menambah area parkir, merenovasi auditorium dan berbagai taman, serta memperindah beberapa sudut yang sudah mulai usang. Hingga kini angka kunjungan ke tujuan wisata ini terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Ke depan Taman Sengkaling ini akan kita kembangkan menjadi area terpadu untuk wisata edukatif, yang terintegrasi dengan kampus dengan berbagai fasilitasnya, termasuk beberapa laboratorium,” tambah Fauzan. Saat ini jalan tembus dari UMM ke Sengkaling lewat belakang sedang dalam pengerjaan.


SENGKALING KULINER
Sengkaling Food Festival ( SFF ) merupakan ikon wisata baru di Malang, yang dibangun di kawasan Taman Rekreasi Sengkaling ( TRS ). Konsep penggabungan Wisata Kuliner dengan Taman Rekreasi, didukung pengaturan Site Plan , Desain Gedung , Penataan Outlet dan Lighting System yang mumpuni sehingga memberi kesan sensasional yang tak akan terlupakan. SFF menempati areal seluas 3 hektar di depan TRS, lokasi yang sangat strategis terletak di jalan raya antara Malang – Batu , dekat dengan beberapa Perguruan Tinggi terkenal antara lain ; Universitas Muhammadiyah Malang , Universitas Islam Malang , Universitas Brawijaya dan UIN Maulana Malik Ibrahim. Didukung dengan areal parkir SFF yang sangat luas , dengan sistem pengelolaan parkir yang baik , mampu menampung ratusan kendaraan , sehingga diharapkan dapat  memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung SFF. Sebagai pusat kuliner terbesar di Jawa Timur , SFF menyediakan ratusan tenant yang menyajikan beragam menu berkualitas dengan harga yang terjangkau bagi semua kalangan , mulai keluarga , pelajar dan mahasiswa , pelajar dan para wisatawan. Selain kuliner , SFF juga menyediakan tenant yang menjual makanan / minuman khas Malang yang dapat dijadikan oleh – oleh , serta terdapat butik yang menjual pakaian bermerek dan berkualitas . SFF sangat tepat sebagai tempat hang out , meeting point, kongkow dan kumpul dengan keluarga , teman maupun kolega. SFF buka setiap hari mulai pukul 16.00 s/d 23.00 WIB , kecuali hari Sabtu dan Minggu SFF buka mulai pukul 12.00 s/d 23.00 WIB. Soft Opening SFF telah dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2014 , animo masyarakat / pengunjung dengan dibukanya SFF sangat bagus diluar perkiraan dari Pengelola , meskipun masih dalam masa Soft Opening. Grand Opening SFF direncanakan dalam bulan Agustus – September 2014 dan akan dimeriahkan oleh Artis Terkenal dari Ibukota. Tujuan TRS menyelenggaran SFF antara lain adalah untuk mengubah imagemasyarakat luas bahwa TRS / Taman Rekreasi Sengkaling sedang dan akan selalu berubah seiring dengan perkembangan pariwisata di Malang. TRS akan bertransformasi berubah menjadi taman rekreasi yang moderen , yang akan kembali menjadi tempat tujuan utama para wisatawan Malang dan Jawa Timur. Grand Designdan Masterplan TRS yang baru sudah selesai dibuat , hasil karya arsitek ternama . Tahap awal dari Masterplan ini yaitu SFF, sudah mulai direalisasikan sebagai wujud komitmen TRS menjawab kebutuhan masyarakat / wisatawan dan tantangan jaman.

sumber : http://dendyrey21.student.umm.ac.id/2016/06/24/taman-rekreasi-sengkaling-dan-sengkaling-kuliner/#

Benteng Protugis Di Lohayong Solor



BONGKAHAN beton berusia 500-an tahun berserakan di tebing sampai bergelantungan di bibir pantai, mengisyaratkan ketidakpedulian pemerintah dan masyarakat sekitar terhadap benteng yang dibangun Portugis pada 1555-1603 itu. Misi Katolik Portugis di daratan Flores dan sekitarnya berawal dari benteng itu. Benteng itu disebut ”Port Henricus XVII”, merupakan bagian dari ziarah religius ”Semana Santa” di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur
Benteng terletak sekitar 20 meter dari bibir pantai di ujung barat Desa Lohayong, Flores Timur, dengan ketinggian sekitar 50 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari bekas reruntuhan benteng dapat dipantau secara jelas kapal dan perahu layar yang melintas di Selat Solor, antara Pulau Solor dan Pulau Adonara, Flores Timur.
Sebuah meriam peninggalan Portugis yang tertutup semak belukar tergeletak persis di tepi tebing dengan moncong mengarah Selat Solor, yang biasa dilalui kapal-kapal asing zaman dulu. Meriam yang lain mengarah ke timur dan barat. Di bagian barat benteng itu tumbuh sebuah pohon beringin dengan akar bergelantungan.
Nie Kolin (81), penutur lisan sejarah Solor di Desa Kawatung, pekan lalu, mengatakan, sampai 1850-an, kawasan benteng Portugis itu disebut kota. Sebab, waktu itu hanya wilayah itu yang memiliki fasilitas permukiman yang cukup lengkap dengan pelabuhan laut yang masih layak disinggahi kapal atau perahu. Semuanya dibangun Portugis.
Pelabuhan itu digunakan saudagar Portugis untuk mengangkut kayu cendana dan gaharu dari Pulau Solor. Setiap bulan sebuah perahu mendarat di pelabuhan itu. Kayu itu diperoleh dari hutan sekitar.
Penduduk lokal masih primitif, percaya akan hal-hal mitis-magis. Mereka tidak mudah menerima ajaran baru yang diajarkan Portugis. Mereka pun tidak berani menempati pantai itu karena takut terhadap serangan musuh. Zaman itu kehidupan suku-suku saling serang. Mereka membangun permukiman di bukit atau ketinggian agar tidak mudah dijangkau musuh.
Nelayan dari luar
Tahun 1870-an, Lohayong diduduki nelayan dari luar. Mereka memanfaatkan sebuah pelabuhan yang ditinggalkan Portugis yang masih tampak layak untuk pendaratan perahu dan hasil tangkapan.
”Cerita ini diceritakan oleh ayah yang mendapat cerita dari kakek. Tentu kakek juga mendapat cerita dari moyang dan seterusnya. Ada tujuh atau delapan turunan dari suku Kolin yang memiliki cerita ini,” kata Nie.
Penduduk asli Solor memiliki marga (suku), antara lain, Kolin, Herin, Hayon, Tukan, Kaha, dan Kroon. Kini, mereka menyebar di seluruh daratan Pulau Solor dan di luar Solor, seperti Pulau Adonara, Lembata, dan daratan Flores. Suku Kolin sebagai pemegang sabda, ajaran, juru bicara, dan penutur sejarah. Koten sebagai pimpinan pemerintahan dan suku lainnya berperan sebagai warga biasa.
Tidak banyak literatur yang menjelaskan kehadiran benteng tersebut, termasuk tahun pembangunan, dimulai oleh siapa, serta dari mana Portugis mendapatkan pasir dan semen.
Antropolog Jerman, Paul Arndt (1886-1962), antara lain, menyebutkan benteng itu didirikan 1555-1603 dibawa kekuasaan raja Portugis Henricus XVII sehingga disebut juga ”Port Henricus”. Di dalam benteng terdapat sebuah katakombe dengan satu unit kamar yang belum bisa dibuka sampai hari ini.
Misi Katolik di Flores dan Timor dimulai dari Solor sehingga dalam literatur tua gereja Katolik disebutkan ”Misi Solor”. Sebutan ini diperkuat dengan sejumlah peta tua tentang pulau-pulau di ujung timur Flores, disebut Kepulauan Solor dan Selat Solor. Padahal, Solor jauh lebih kecil (tiga kecamatan) dibandingkan dengan Pulau Adonara (tujuh kecamatan) dan Pulau Lembata (14 kecamatan).
Meninggalkan benteng
Sekretaris Daerah Flores Timur Anton Matutina mengatakan, sekitar tahun 1600, Portugis meninggalkan benteng itu karena terus mendapat serangan dari penduduk lokal, yang masih primitif. Portugis kemudian bergeser ke Larantuka dan sebagian melanjutkan perjalanan ke Sikka.
Mengenai penduduk yang sedang berdiam di Lohayong saat ini, ia mengatakan, mereka itu datang kemudian dengan status sebagai nelayan. Mereka memanfaatkan sebuah dermaga yang dibangun Portugis dan masih layak dipakai sampai 1800-an.
Kepala Desa Lohayong II Thahir Kasim mengatakan, benteng itu berukuran 52 x 36 meter. Didirikan bangsa Portugis sekitar 1557 bertujuan melindungi diri dari serangan penduduk lokal yang telah menganut agama Islam.
”Kalau Belanda mengusir Portugis tentu penduduk di Lohayong ini beragama Protestan, tetapi faktanya menganut agama Islam. Siapa yang mengusir Portugis dari Lohayong, kita akan diskusi bersama ahli sejarah dan sejumlah tokoh Katolik tentang hal ini untuk mencari kebenaran sejarah,” kata Thahir.
Peziarah ”Semana Santa”
Sekretaris Desa Lohayong II Abdullah Imran menuturkan, setiap tahun, sekitar 500 orang mengunjungi benteng itu. Mereka kebanyakan peziarah ”Semana Santa”, Jumat Agung di Larantuka, dan para turis mancanegara.
Sesuai peraturan Desa Lohayog, pengunjung dikenai pungutan Rp 25.000 per pengunjung lokal dan Rp 100.000 per pengunjung asing. Namun, Imran tidak menjelaskan manfaat pungutan itu. Kondisi benteng sendiri dalam keadaan hancur, porak poranda.
Banyak peneliti benteng heran dengan kondisi reruntuhan benteng. Meski campuran beton sudah 500-an tahun silam, bongkahan beton itu tidak mudah hancur. Pasir dan semen atau campuran bahan memiliki cekatan (rekatan) yang sangat kuat.
”Peneliti dari Jerman coba menguyah campuran itu untuk mengetahui apakah terasa asin atau tidak, tetapi rasanya biasa saja. Mereka bahkan membawa sedikit campuran ke negara asal untuk penelitian lebih lanjut,” kata Imran.
Nilai religius
Putra Solor yang juga Pastor Paroki Baniona, Rm Silvester Siku Pr, mengatakan, benteng Henricus di Lohayong merupakan salah satu peninggalan Portugis yang diyakini sebagai tempat bersejarah yang memiliki nilai religius. Di dalam benteng itu sekitar delapan pastor dari kongregasi Dominikan dibunuh penduduk asli. Mereka adalah martir dalam mewartakan agama Katolik.
Benteng ini sebagai bagian dari rangkaian ziarah rohani ”Semana Santa”, Jumat Agung di Larantuka, selain gereja tua di Wure, Adonara. Sangat disayangkan kalau benteng itu berada di lokasi yang tidak nyaman bagi para peziarah.
”Mempertahankan Misi Solor sebagai cikal bakal agama Katolik tumbuh dan berkembang di seluruh daratan Flores sampai Timor Leste, sebaiknya dibangun sebuah taman doa rohani di Solor. Para peziarah diarahkan ke tempat itu,” kata Silvester

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2012/10/22/20372773/Benteng.Lohayong.Cikal.Bakal.Misi.Portugis.di.Flores.#

Biodata Diri

nama saya ahmad ruziq biasa di panggil zek hoby saya sepak bola dan makanan kesukaan saya adalah masakan ibu saya dan saya to saya lulusan pondok budi utomo (smabu) jombang saya belajar di pondok tiga tahun dan saya bisa berbahasa arab sangat lancar(insyaallah tapi)... sekian terima kasih... kalo mau tau lebih lanjut langsung ketemu orang nya yang disini. .

Kamis, 23 Juni 2016

Larantuka

Larantuka adalah ibu kota Kabupaten Flores Timur dengan populasi penduduk + 33,000 orang. Kota yang terletak di sepanjang pesisir pantai ini memiliki beberapa daya tarik wisata yang dapat dikunjungi seperti : keindahan panorama teluk Mokantarak, pemandian air panas Mokantarak, pulau Waibalun, wisata religius Semana Santa, dan pemandangan kesibukan aktivitas keseharian penduduk kota.
Terdapat fasilitas pelayan umum seperti perbankan, internet, akomodasi, rumah makan, rumah sakit, agen perjalanan, pusat penyewaan mobil atau sepeda motor, pelabuhan udara, pelabuhan laut, stasiun kendaraan dan lain-lain.
Anda dapat menikmati kuliner lokal jagung titi dan kue rambut khas Larantuka. Disini anda juga dapat menelusuri sudut-sudut religius Kota Larantuka seperti Gereja Katedral larantuka yang megah, Patung Mater Dolorosa, Taman Kota Larantuka dan memandang luasnya laut serta indahnya pantai-pantai yang mempesona.

Sumber: http://tourism.nttprov.go.id/objek/432-kota_larantuka